Sebagai sebuah bangsa,
Indonesia akan selalu ditantang untuk menyempurnakan eksistensi kebangsaannya
di tengah dinamika perubahan lingkungan strategis dunia. Bangsa Indonesia yang
tiada lain adalah bangsa nusantara, merupakan bangsa pejuang, dan akan selalu
bergairah untuk menegakkan eksistensi peradabannya sejajar dengan bangsa-bangsa
lain di dunia. Elan vital perjuangan itu adakalanya mengalami pasang naik dan
adakalanya mengalami pasang surut. Bahkan ketika elan vital itu tampak redup,
sebenarnya tidak sedikit kader-kader pejuang bangsa yang masih selalu bergerak,
bekerja dan berkorban untuk tegak eksisnya Indonesia sebagai sebuah bangsa.
Keberadaan mereka bekerja tanpa lelah, namun kurang terkonsolidasi sebagai
sebuah kekuatan skala bangsa, sehingga kesan pesimisme, apatisme dan rasa lesu
kebangsaan yang tampak di permukaan.
Melalui media ini
saya, Siti Hediati Soeharto atau Titiek Soeharto, ingin menemani perjuangan
saudara-saudaraku segenap rakyat Indonesia dalam mengambil kembali kejayaan
bangsa kita, bangsa yang berdaulat, diliputi keadilan dan kemakmuran, serta
memiliki harga diri yang tidak bisa disepelekan oleh superioritas bangsa-bangsa
lain. Saatnya kita mengalokasikan semua energi dan potensi yang kita miliki
untuk kita konsolidasikan dan kontribusikan dalam meraih kemajuan yang kita
cita-citakan bersama.
Upaya mewujudkan sebagai bangsa yang tangguh itu dilakukan melalui
konsep trilogi pembangunan. Yaitu terciptanya stabilitas yang mantap,
pembangunan di segala bidang, dan pemerataan pembangunan bagi seluruh rakyat.
Tanpa stabilitas, pembangunan mustahil diwujudkan untuk dapat secara cepat
berkompetisi dengan dinamika global yang semakin kompetitif. Begitu pula dengan
pembangunan, bukan sekedar ditandai oleh pergerakan ekonomi, tapi juga harus
berorientasi pada kedaulatan ekonomi. Pembangunan dan hasil-hasilnya juga harus
bisa di akses dan dinikmati secara merata bagi seluruh lapisan masyarakat dan
wilayah NKRI
Dahulu dikenal adanya
delapan jalur pemerataan pembangunan. Pertama, pemerataan pemenuhan kebutuhan
pokok yang ditekankan pada pemenuhan kebutuhan pangan, kebutuhan sandang dan
papan. Kedua, pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan.
Ketiga, pemerataan pembagian pendapatan. Keempat, pemerataan kesempatan kerja.
Kelima, pemerataan kesempatan berusaha. Keenam, pemerataan kesempatan
berpartisipasi dalam pembangunan, khususnya generasi muda dan wanita. Ketujuh,
pemerataan penyebaran pembangunan di seluruh wilayah tanah air. Kedelapan,
pemerataan kesempatan memperoleh keadilan.
Konsep itu kini masih
relevan untuk diterapkan. Apapun istilah teknis dan modifikasi programnya,
trilogi pembangunan masih dibutuhkan bangsa kita. Melalui media ini, semoga
kita semua bisa saling berbagi spirit dalam melanjutkan perjuangan bangsa kita,
mencapai fase lepas landas, sejajar dengan negara-negara maju.
0 Comments